Aku hanya bisa tersenyum setiap kali mengingat peristiwa tersebut.
Kejadiannya sekitar 5 tahun yang lalu. Salah satu tetehnya teman dekatku menikah. Di Cilegon sana. Dan kebetulan karena aku ingin sekalian jalan-jalan ke Anyer akhirnya aku ikutan temenku untuk jalan-jalan ke sana.
Malam menjelang hari-H keluarga temanku agak-agak bersitegang :), gara-garanya... si mama bersikukuh untuk menggunakan jasa pawang hujan untuk esok hari. Karena hampir seluruh anak-anaknya pemahaman Islamnya bagus dan bener ^_^, walhasil dengan kompak semua menolak usul sang mama.
Bahkan sang temanku berkata "Udahlah ma... mending malem ini kita tahajud aja, minta ama Allah langsung, ga usah pake jasa dukun segala."
Karena sang mama terpojok akhirnya beliau diam saja.
Tiba pada hari-H. Jam 9 pagi akadnya. Ternyata hujan turun dengan lebat. Kami semua sedih... bukan sedih karena hujannya, karena hujan adalah rizki yang tak boleh disesali. Tapi kami merasa "kalah" di depan sang mama.
Tapi alhamdulillah, menjelang jam 11 pada saat resepsi mentari berkenan memberikan sinarnya.
Malam pun tiba.
Waktunya kami semua berkumpul di ruang keluarga.
Alhamdulillah... acara berjalan dengan lancar dan sempurna.
Tapi... hey, sang mama bermuram durja.
Dan dengan polosnya sang mama berceletuk "Wah... si mbah dukun mah bohong, mama udah bayar 500 ribu, eh... hujan tetep aja turun".
Kami semua jadi berpandangan. Dan sejurus kemudian serentak meledaklah tawa kami. Ternyata... tanpa sepengetahuan anak-anaknya sang mama tetap menghubungi pawang hujan untuk menjalakan tugasnya.
Dan.. Allah punya rencana lain ternyata.
Kami udah sedih-sedih karena hujan tetap saja turun pagi itu. Karena tadinya kami ingin membuktikan kepada sang mama tentang dasyatnya kekuatan do'a, eh... (mungkin) kata Allah mah, "Tenang... ada hikmah lain dibalik turunnya hujan kali ini ^_^"
Teriring ingatanku pada hangatnya keluarga sahabatku di Cilegon sana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar