Kategori

16 April 2008

Yah... Pawangnya Bohong...

Aku hanya bisa tersenyum setiap kali mengingat peristiwa tersebut.

Kejadiannya sekitar 5 tahun yang lalu. Salah satu tetehnya teman dekatku menikah. Di Cilegon sana. Dan kebetulan karena aku ingin sekalian jalan-jalan ke Anyer akhirnya aku ikutan temenku untuk jalan-jalan ke sana.

Malam menjelang hari-H keluarga temanku agak-agak bersitegang :), gara-garanya... si mama bersikukuh untuk menggunakan jasa pawang hujan untuk esok hari. Karena hampir seluruh anak-anaknya pemahaman Islamnya bagus dan bener ^_^, walhasil dengan kompak semua menolak usul sang mama.

Bahkan sang temanku berkata "Udahlah ma... mending malem ini kita tahajud aja, minta ama Allah langsung, ga usah pake jasa dukun segala."

Karena sang mama terpojok akhirnya beliau diam saja.

Tiba pada hari-H. Jam 9 pagi akadnya. Ternyata hujan turun dengan lebat. Kami semua sedih... bukan sedih karena hujannya, karena hujan adalah rizki yang tak boleh disesali. Tapi kami merasa "kalah" di depan sang mama.

Tapi alhamdulillah, menjelang jam 11 pada saat resepsi mentari berkenan memberikan sinarnya.

Malam pun tiba.
Waktunya kami semua berkumpul di ruang keluarga.
Alhamdulillah... acara berjalan dengan lancar dan sempurna.

Tapi... hey, sang mama bermuram durja.
Dan dengan polosnya sang mama berceletuk "Wah... si mbah dukun mah bohong, mama udah bayar 500 ribu, eh... hujan tetep aja turun".

Kami semua jadi berpandangan. Dan sejurus kemudian serentak meledaklah tawa kami. Ternyata... tanpa sepengetahuan anak-anaknya sang mama tetap menghubungi pawang hujan untuk menjalakan tugasnya.

Dan.. Allah punya rencana lain ternyata.
Kami udah sedih-sedih karena hujan tetap saja turun pagi itu. Karena tadinya kami ingin membuktikan kepada sang mama tentang dasyatnya kekuatan do'a, eh... (mungkin) kata Allah mah, "Tenang... ada hikmah lain dibalik turunnya hujan kali ini ^_^"

Teriring ingatanku pada hangatnya keluarga sahabatku di Cilegon sana.

14 April 2008

Mencari Cermin

Kalo inget ini jadi beneran kangen ama temen-temen kuliahku.

Dulu... setiap tahun kami punya acara yang namanya CUCURAG (maap kalo nulis bahasa sundanya salah). Acara tersebut diadakan setiap menjelang ramadhan. Sebagai sarana maap-maapan sebelum memasuki bulan suci maupun sebagai ajang saling memberi masukan dan instropeksi.

Biasanya sih acara diadakan ga jauh-jauh. Kadang di rumah salah seorang teman kami yang asli bogor. Atau kadang di taman depan kampus (Taman Koleksi alias takol, dan juga kadang nyebrang jalan di Kebun Raya Bogor).

Acaranya biasa... makan-makan... kumpul-kumpul... dll.

Salah satu acara yang menarik selain acara curhat adalah lembar evaluasi. Tim acara tiap tahun menyiapkan lembar evaluasi dengan item yang sedikit berbeda tiap tahunnya, tapi intinya sama. Yaitu instropeksi. Setiap lembar telah berisi nama kami satu per satu.

Ada kriteria yang kocak, tapi tak sedikit juga kriteria yang bener2 serius. Misal: burket, sombong, pemarah, angkara murka, penolong, pembohong, setia, dll.

Dan dibawahnya tersedia tabel yang berisi memudahkan pengisian sesuai keriteria yang ada. Ya! Sebagaimana ilkomerz sejati yang kenalnya biner, di sebelah kanan kriteria tersebut tersedia kolom yang bisa diisi oleh angka nol atau satu oleh teman-teman sekelas yang lain. 0 berarti tidak, dan 1 berarti iya.

Setelah kertas tersebut selelsai beredar, kami bisa membaca raport kami. Jika lebih 90% dari teman-teman mengatakan bahwa kriteria tsb benar, berarti itulah cerminan diri kami selama satu tahun terakhir.

Seru ya...?
Bagi kami sih seru.
Karena itu adalah ajang evaluasi untuk perbaikan diri kami.
Walaupun kadang agak-agak merah muka pada saat kriteria-kriteria yang tidak mengenakkan melekat pada diri kami.

Jadi kangen masa-masa itu.
Jadi kangen menerima evalusi dari orang-orang yang menyertai dalam kehidupan yang begitu indah ini.

Titip salam hangat untuk Bogor, suamiku.
(suamiku lagi tugas ke bogor 3 hari ini)

Setiap Episode ada "JAGOan"nya

Ga tau, tiba-tiba aja kepikiran ama judul itu.

Terkait dengan kejadian yang aku alami akhir-akhir ini.

1. Jagoan pertama.
Seorang oknum keluarga dari pihak ibuku. Baru aja dapet mantu kaya raya. Sawahnya berpuluh hektar. Rumahnya megah. Dll. Dan... dengan bangganya si 'paklek' bercerita kemana-mana tentang kekayaan besannya. Sebagai orang yang menjadi objek dari cerita-cerita sang 'paklek', kadang aku gerah juga.

Wuah... kalo nulis ini jadi inget suami tercintaku. Yang selalu saja bilang "udah ah, stop, aku ga mau diajak ngomongin orang, dosa", hehehe.

2. Jagoan kedua.
Seseorang yang telah sukses di salah satu milis yang aku ikuti. Iya seh, emang dia sukses banget, untuk ukuran orang sepertiku yang bukan apa-apa. Awalnya, aku berfikir, apa aku aja ya yang agak2 gerah dengan 'kearoganan' kata-kata dia selama ini di milis. Tapi... ah, apa hakku menilai dia? Sehingga penilaian itu aku simpan saja selama beberapa waktu. Tapi.. setelah beberapa teman di milis tersebut juga akhirnya mengomentari ke'arogan'an kata-kata beliau, ehm... berarti ga aku aja dunk yang berfikiran seperti itu?

Jadi inget salah satu kakak kelasku yang ngingetin "ya wajarlah ndrie, dia kan sukses..." :D

3. Jagoan selanjutnya
Seorang temen kuliahku dulu. Pinter banget!!! Sampe2 sekarang jadi seorang dosen di sebuah perguruan tinggi negeri. Tapi... setahuku hampir 95% temen2ku dulu males kalo harus nanya2 pelajaran ke dia. Abis dia jawabnya pasti ga enak duluan. Yang didahului kata-kata "masa' sih gini aja ga bisa?" or "ini kan gampang banget", dll dll yang kadang2 bikin orang jadi ilfil dengernya.

Tapi... semoga saja sekarang dia sudah berubah. :)

4. Jagoan selanjutnya
Salah satu muridku. Dia tergolong good looking emang. Dan kecerdasannya juga di atas rata-rata. Sebenernya awal2 sih aku seneng ama dia, coz ga menguras energiku pada saat menjelaskan sesuatu. Tapi lama-lama setelah diikutin, dia suka ngomong yang kurang pada tempatnya ama guru. Yah... bahwa lainnya mah sok tahu gitu. Tadinya sih aku ga ambil pusing, yah... wajar. Anak muda. Masih mencari jati diri. Jadi ke-AKU-anku masih meledak-ledak. Tapi... setelah hampir semua guru mengeluhkan sikapnya, dan ditambah temen2 sekelas dia yang ogah temenan ama anak itu, aku jadi berfikir, wah... berarti ada yang salah dengan pembawaan muridku yang satu ini.

Akhirnya, beberapa waktu yang lalu, pada saat ada kesempatan aku panggil dia dan membicarakan hal itu. Semoga saja dia bisa mengambil sikap dengan baik.

Ya... ya... ya...
Itu baru empat yang aku sempat tulis. Mereka mungkin merasa sebagai JAGOan dalam kehidupannya masing-masing karena merasa mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki olehorang lain. [Termasuk ahmad d***??? hehehe].

Merasa JAGOan.
Mungkin aku juga termasuk di dalamnya menurut penilaian orang lain (tapi aku berharap semoga saja tidak)

"Bukankah sombong adalah selendang milik Allah? Beranikah aku memakainya?"

02 April 2008

Masih Ada Ya... di Jaman Gene?

Kejadiannya baru saja kemain sore.
Sepulang dari mengajar aku rebahan sambil nonton Jelang Sore.

Tiba-tiba ada yang salam, waah... tamu.
Buru-buru aku ambil jilbab dan buka pintu.
Ternyata tamunya saudara ibu dari kampung (iya, kampung beneran, bukan bermaksud untuk sok kota:p, walaupun rumahku udah termasuk desa kecil, tapi tamu yang datang ini datang dari desa yang jauh lebih kecil dan terpencil dari desaku :p)

Dia datang bersilaturahmi sambil bawa berita.
Dia mau menikahkan cucu perempuannya yang (baru) berusia 18 tahun.
Ehm.. kalo masalah umur seh di desa gadis seusia itu nikah udah wajar.
Tapi yang buat aku melongo, asli ga bisa ber-ekspresi adalah dialog antara ibuku dan tamu tsb:

"Dapat orang mana?"
"Jepara", jawab beliau.
"Kenal dari mana?", coz Jepara relatif jauh dari desa tamu tersebut berasal, sekitar 3 jam perjalanan darat, jadi wajar jika ibu bertanya seperti itu.

"Itu, pas cucuku berangkat ngaji, ada orang Jepara yang lagi 'main' ke pesantren dekat tempat mengaji cucuku. Trus laki-laki tersebut suka cucuku. Dia nanya ke penjual jajanan dekat pesantren itu. Trus besoknya langsung diantar ama penjual jajan tsb untuk lamar cucuku. Baru kok, baru 2 minggu yang lalu kejadiannya. Nikahnya insyaAllah senin depan".

"Tapi njenengan sudah datang ke rumah sang calon mempelai pria kan?", tanya ibuku dengan nada khawatir.
"Sudah, waaah... aku sampe ndredeg de', kata sang tamu. Ternyata yang lamar cucuku orangnya kaya banget, bla..bla..bla..", dst dengan nada bangga dan optimis.
"Oh... syukurlah", kata ibuku.

Ehm... aku cuma bisa diam. Lagipula bukan levelku untuk ikut nimbrung pembicaraan mereka.
Tapi sepulang tamu tersebut tak urung aku bertanya juga.

"Bu, kok semudah itu ya keluarga kita di desa menjatuhkan pilihan untuk jodoh anak-anaknya?", dengan nada keheranan.

Yah... walaupun aku juga mengenal jenis-jenis perjodohan yang juga mirip dengan itu, tapi sepertinya yang pernah aku tahu versi-versi perjodohan yang dilakukan oleh 'jamaah2/komunitas2' lain tak segegabah itu deh.

Ibuku tersenyum.

"Iya nduk, ya begitulah. Orang sana tuh banggaaa banget kalo anak perempuannya ada yang meninang. Dan tanpa berfikir dua atau tiga kali mereka biasanya akan langsung berkata iya".

"Ehm... tapi apa tidak sebaiknya diselidiki dulu latar belakang keluarga, akidah, pemikiran, dll dari calon menantu Bu?", tanyaku lagi, abis masih penasaran.

"Ehm... biasanya sih jarang. Bahkan ada sebuah cerita nduk, seorang kyai besar di Sarang (salah satu kota di daerah ibuku yang kental dengan pesantrennya) tertipu nduk. Pas menikahkan anaknya baru tahu kalo mempelai laki-lakinya udah punya istri. Jadi besoknya langsung cerai deh".

Waduh.
Ehm... aku cuma manggut-manggut.
Jadi puyeng.

Emang bener sih, aku juga pernah denger sebuah hadist yang kurang lebih berbunyi "Jika datang seorang pria dengan agama yang baik meminang seorang wanita, lalu ditolak tanpa alasan yang syar'i, maka tunggulah fitnah terjadi di muka bumi".

Tapi kan yang perlu digarisbawahi adalah AGAMA YANG BAIK. Dan itu bisa diketahui (setidaknya dengan survey or pengamatan dulu).

Ehm..
Apalagi aku juga pernah dengar sebuah hadist yang kira-kira berbunyi "Pernikahan adalah sebuah perbudakan seorang wanita terhadap suaminya, untuk itu, lihatlah terlebih dahulu siapa yang akan menjadi tuan bagi putrimu".

Wallahu'alaum.
Ilmuku juga masih sedikit tentang ini.
Tapi... aku jadi merenung.

Masih ada ya di jaman gene orang-orang yang begitu QONA"AH masalah jodoh...?
Subhanallah...

^_^