Kategori

05 Desember 2010

Aku, antara Autis dan Hiperaktif

Sabtu 04 Desember 2010.

Sebagaimana jadwal keluarga kecil kami, sabtu pagi adalah jadwal berenang. Sudah beberapa sabtu terlewati tanpa renang karena ada saja halangan. Yang abinya keluar kotalah, hujanlah, dll.

Dan karena sudah agak lama rutinitas tertunda, si kecil dari jumat malam sudah menagih "Sabtu pagi renang umi?", "Iya insyaAllah, semoga ga hujan" jawabku.

Walaupun cuaca agak mendung, dengan semangat 45 rakha keukeuh untuk mengajak renang.

"Ayo umi, UPN umi, renang", itu kata pertama yang meluncur ketika dia terbangun.

Biasanya aku ikut nyebur menemani dia berenang, tapi karena lagi halangan aku hanya duduk di tepi kolam.

Di situlah kuliah tentang kehidupan di mulai.

"Permisi bu..." kata serombongan ibu2, aku pun minggir.

Empat orang ibu2 memaksa seorang anak masuk ke dalam kolam renang. Diceburin. Dan karena yang dimasukin gedhenya subhanallah (ada kali 90 kg), akhirnya dua orang ibu2 ikut tercebur.

Aku melihat ada yang aneh memang. Tapi ga enak mau tanya2.

Tapi karena salah satu ibu2 itu ada di sebelahku, akhirnya aku tanya juga:

"Terapi apa bu?", tanyaku.

"Ga terapi apa2 kok, ini dari sekolah, jadwalnya berenang aja", jawabnya agak2 ketus.

Ooo... sambil manggut2.

Ibu2 yang ketus tadi pergi.

Ibu2 yang kecebur salah satunya minggir di dekatku. Dia tersenyum.

"Duh... ikutan nyebur deh, yang diceburin segedhe gajah", katanya.

Aku cuma senyum2.

"Berapa tahun itu bu?", tanyaku. Yang jelas itu bukan anaknya, coz yang diceburin putih banget n sipit, sedangkan ibu2 itu item (ga pake banget :p).

"13 tahun, autis bu", jawabnya.

"O... ibu guru sekolah khusus autis?", tanyaku.

Obrolan pun dimulai. Tentang anak2 didiknya. Tentang penyebab autis. Tentang autis yang bisa menyerang mulai umur 2 tahun ke atas jika salah pola asuh. Dll.

Ilmuku jadi bertambah.

Pertanyaan terakhirku untuk sang bu guru.

"Kalo autis gitu, bisa sembuh total dan normal ga sih bu? Sampe menikah dan menjadi orang tua biasa gitu?".

"Ehm... kalo sampe menikah dan bener2 normal seperti kita2, mungkin tidak bisa bu...", jawabnya.

Pikiranku menerawang jauh...

Subhanallah... betapa amanah luar biasa memiliki anak autis seperti itu.

Luar biasa. Karena artinya pengadian seumur hidup bagi siapapun yang masih bisa mengasuhnya.

Aku jadi kepikiran, kalo bapak ibunya sudah meninggal, lalu bagaimana anak itu?


Karena sudah 1 jam lebih, rakha dan abinya pun mentas.

Sambil menunggu abinya ganti. Kami duduk di tempat tunggu sambil makan pisang goreng kesukaan rakha.

Seorang kakek menyapa kami.

"Baru satu jeng putranya?", tanyanya.

"Nggih Pak... pangestunipun...", jawabku.

"Kalo saya cucu saya dua jeng, itu yang lagi renang". Sambil nunjuk seorang anak kecil yang dari tadi memang menjadi perhatianku. Luarbiasa anak yang ditunjuk kakek tsb. Dari aku datang sampe aku selesai, dia masih renang muter2 di kolam renang dewasa, menyelam, gaya bebas, gaya dada, dll.

"Oo.. yang itu Pak, pinter banget ya renangnya. Berapa tahun itu?", tanyaku.

"Baru mau 5 tahun jeng".

"Hiperaktif", tambahnya sambil menerawang.

Deg. Aku kaget sekai. Sama sekali tak terlihat keanehan dari anak itu selain renangnya yang sangat jago untuk ukuran usianya.

Sang kakek pun bercerita...

"Saya punya andil jeng dalam kejadian ini", dia membuka cerita.

Aku terdiam sambil nyuapin rakha.

Anak saya dua, yang pertama perempuan, dokter. Ibunya cucu saya yang itu. Satu lagi anak saya laki2, sukses berkarir, di perusahaan X (sambil nyebut merek :p) sampai sekarang tidak mau berumahtangga.

Saya ketua majelis ****** (sambil nyebut lembaga) indonesia jeng. --> abis tak google, dan tak macthkan dengan cerita beliau. VALID :)

IQ saya luar biasa. IQ anak saya juga.

Kemudian ketika anak saya hamil, saya berdoa. Ya Allah, semoga IQ cucu saya lebih tinggi dari kami semua.

Dan, Allah kasih itu. Waktu cucu saya usia 3 tahun, IQnya sudah 130.

Tapi... saya baru menyadarinya akhir2 ini.

Subhanallah... doa saya mungkin salah. Saya hanya meminta IQ. Padahal IQ bukan segalanya.

Apa gunanya IQ kalo cucu saya tidak bisa mengontrol emosinya?

Kalo sudah kumat, dia bisa meledak2.

Bahkan bisa melukai dirinya sendiri.

Kalo sedang normal dia sih cerdas luarbiasa. Apa saja bisa dia lakukan. Pengasuh untuk cucu saya tsb sampe 4 orang jeng. Yang bertugas mengantisipasi kalo lagi kumat.

Dll... Panjang lebar dia bercerita.

Orang melihat saya sukses.

Padahal saya sebenernya sakit jeng.

Tidak banyak yang tahu. Saya dari kecil punya sakit yang luarbiasa. Yaitu sifat dengki. Sifat dengki saya luarbiasa hebat. Ketika ada orang lain sukses, saya dengki. Ketika apapun... yang oranglain capai. Saya dengki. Mungkin itulah hikmah sampe akhirnya saya sampai pada jabatan ini. Tapi saya sendiri tidak nyaman dengan diri saya jeng.

Di usia yang seperti ini saya merenung... Ya Allah, kenapa saya sejelek ini...

Panjang... sekali ceritanya. Sampai si abi selesai mandi dan ganti baju kemudian bergabung bersama kami.

Alhamdulillah jeng, di usia saya yang sudah mendekati kematian ini Allah berkenan memberi hidayah.

Saya kembali mendalami agama saya jeng. Saya yakin bahwa apapun keadaan keluarga kami ni pasti yang terbaik.

Hanya saja kami harus bisa menyelami apa maksud Allah dibalik semua ini. Dst..

Sampai akhirnya dia menutup ceritanya, "Itulah kenapa, saya cerita ke jeng. Hati2 dalam berdoa jeng. Allah pasti memberikan apa yang kita minta. Tapi masalahnya kita tidak tahu apakah itu yang terbaik. Bahkan sekarang saya berdoa, ya Allah, lebih baik cucu saya IQnya biasa saja tapi bisa bermanfaat dan sholeh daripada IQ tinggi tidak bermanfaat"...

Ketika berpamitan. Sang kakek mengantarkan kami sampai ke gerbang kolam renang.

Penghormatan yang luar biasa. Dan dia pun mengatakan, "Semoga sabtu depan bisa ketemu lagi..."

Aku menarik nafas panjang.

Setiap anak lahir dengan takdirnya masing2.

Ada yang autis. Ada yang hiperaktif. Ada yang... macem2.

Kadang kita mengeluh karena 1 kekurangan. Tapi jarang kita mensyukuri 1000 kelebihan yang ada.

Kuliah kehidupan yang luar biasa di akhir minggu kali ini.

(sekalipun tetep aja pusing luarbiasa menemui black hole tesisku, doh :p)

Hikmah adalah milik muslim yang tercecer, saat menemukannya. Ambillah ia...