Kejadiannya baru saja kemain sore.
Sepulang dari mengajar aku rebahan sambil nonton Jelang Sore.
Tiba-tiba ada yang salam, waah... tamu.
Buru-buru aku ambil jilbab dan buka pintu.
Ternyata tamunya saudara ibu dari kampung (iya, kampung beneran, bukan bermaksud untuk sok kota:p, walaupun rumahku udah termasuk desa kecil, tapi tamu yang datang ini datang dari desa yang jauh lebih kecil dan terpencil dari desaku :p)
Dia datang bersilaturahmi sambil bawa berita.
Dia mau menikahkan cucu perempuannya yang (baru) berusia 18 tahun.
Ehm.. kalo masalah umur seh di desa gadis seusia itu nikah udah wajar.
Tapi yang buat aku melongo, asli ga bisa ber-ekspresi adalah dialog antara ibuku dan tamu tsb:
"Dapat orang mana?"
"Jepara", jawab beliau.
"Kenal dari mana?", coz Jepara relatif jauh dari desa tamu tersebut berasal, sekitar 3 jam perjalanan darat, jadi wajar jika ibu bertanya seperti itu.
"Itu, pas cucuku berangkat ngaji, ada orang Jepara yang lagi 'main' ke pesantren dekat tempat mengaji cucuku. Trus laki-laki tersebut suka cucuku. Dia nanya ke penjual jajanan dekat pesantren itu. Trus besoknya langsung diantar ama penjual jajan tsb untuk lamar cucuku. Baru kok, baru 2 minggu yang lalu kejadiannya. Nikahnya insyaAllah senin depan".
"Tapi njenengan sudah datang ke rumah sang calon mempelai pria kan?", tanya ibuku dengan nada khawatir.
"Sudah, waaah... aku sampe ndredeg de', kata sang tamu. Ternyata yang lamar cucuku orangnya kaya banget, bla..bla..bla..", dst dengan nada bangga dan optimis.
"Oh... syukurlah", kata ibuku.
Ehm... aku cuma bisa diam. Lagipula bukan levelku untuk ikut nimbrung pembicaraan mereka.
Tapi sepulang tamu tersebut tak urung aku bertanya juga.
"Bu, kok semudah itu ya keluarga kita di desa menjatuhkan pilihan untuk jodoh anak-anaknya?", dengan nada keheranan.
Yah... walaupun aku juga mengenal jenis-jenis perjodohan yang juga mirip dengan itu, tapi sepertinya yang pernah aku tahu versi-versi perjodohan yang dilakukan oleh 'jamaah2/komunitas2' lain tak segegabah itu deh.
Ibuku tersenyum.
"Iya nduk, ya begitulah. Orang sana tuh banggaaa banget kalo anak perempuannya ada yang meninang. Dan tanpa berfikir dua atau tiga kali mereka biasanya akan langsung berkata iya".
"Ehm... tapi apa tidak sebaiknya diselidiki dulu latar belakang keluarga, akidah, pemikiran, dll dari calon menantu Bu?", tanyaku lagi, abis masih penasaran.
"Ehm... biasanya sih jarang. Bahkan ada sebuah cerita nduk, seorang kyai besar di Sarang (salah satu kota di daerah ibuku yang kental dengan pesantrennya) tertipu nduk. Pas menikahkan anaknya baru tahu kalo mempelai laki-lakinya udah punya istri. Jadi besoknya langsung cerai deh".
Waduh.
Ehm... aku cuma manggut-manggut.
Jadi puyeng.
Emang bener sih, aku juga pernah denger sebuah hadist yang kurang lebih berbunyi "Jika datang seorang pria dengan agama yang baik meminang seorang wanita, lalu ditolak tanpa alasan yang syar'i, maka tunggulah fitnah terjadi di muka bumi".
Tapi kan yang perlu digarisbawahi adalah AGAMA YANG BAIK. Dan itu bisa diketahui (setidaknya dengan survey or pengamatan dulu).
Ehm..
Apalagi aku juga pernah dengar sebuah hadist yang kira-kira berbunyi "Pernikahan adalah sebuah perbudakan seorang wanita terhadap suaminya, untuk itu, lihatlah terlebih dahulu siapa yang akan menjadi tuan bagi putrimu".
Wallahu'alaum.
Ilmuku juga masih sedikit tentang ini.
Tapi... aku jadi merenung.
Masih ada ya di jaman gene orang-orang yang begitu QONA"AH masalah jodoh...?
Subhanallah...
^_^
2 komentar:
lha saya kira tuban ituh sudah metropolis.
:D
btw, aku lagi di tuban lho...
sampek luamaaa githu...
so, kopdar n makan-makannya kapan?
:D
ups, komennya di open dong mbak.
http://slametwidodo.com
eh... aku tambakboyone mas, bukan tuban kota :p
Sampe kapan di tuban? Ayoo kopdar, siapa takutt???? Mas slamet tapi yang nraktir ya :D
+62-81380477xxx
xxxnya ada di milis mas hehehe
Posting Komentar